Sejarah
SMPN 1 Purwantoro

Letak Geografis

SMP Negeri 1 Purwantoro terletak ± 50 Km di ujung Timur wilayah Kabupaten Wonogiri. Di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo, sedang di sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pacitan.

Lokasi sekolah berada di antara gunung dan perbukitan, seperti halnya sebagian besar wilayah Purwantoro yang memiliki geografis berbukit-bukit dan bergunung-gunung. Di sebelah utara berdiri bukit Mijil atau masyarakat mengenal sebagai Gunung Mijil. Dari puncak bukit ini, bangunan gedung SMP N 1 Purwantoro nampak seperti maket, yang tersusun dengan rapinya. Sedang di sebelah Barat tampak menjulang Gunung Braja, yang memberi panorama nan hijau saat musim penghujan, serta tampak kering ketika musim kemarau.

Dengan ketinggian ± 300 m di atas permukaan laut, SMP Negeri 1 Purwantoro termasuk daerah yang berhawa sejuk yang mendukung kegiatan Belajar Mengajar. 

Wilayah Kecamatan Purwantoro yang berada dipersimpang tiga kabupaten di wilayah Jawa Timur (Magetan, Ponorogo, Pacitan) memberi andil yang besar bagi pesatnya kemajuan berbagai bidang di wilayah ini, termasuk dampaknya terhadap perkembangan SMP Negeri 1 Purwantoro.

Latar belakang berdirinya sekolah

Tahun 1960, limabelas tahun setelah Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, suasana serba kekurangan masih tergambar di sebagian besar masyarakat Indonenesia. Tidak terkecuali di wilayah Purwantoro dan sekitarnya.

Ciri umum yang nampak adalah suasana dan semangat “revolusi” yang sering disampaikan oleh Presiden Soekarno kala itu mempengaruhi cara pandang dan kejiwaan masyarakat. Hingar bingar politik mewarnai nafas hidup di berbagai kalangan masyarakat, yang berada dalam keadaan serba kekurangan.

Perbedaan golongan dan haluan politik yang terjadi, menambah deretan masalah yang memprihatinkan di tengah-tengah kehidupan masyarakat sehari-hari. Belum lagi masalah pendidikan yang masih minim.

Pada tahun 1960 di wilayah Purwantoro dan sekitarnya belum memiliki sekolah SMP atau sekolah sederajat yang mewadai. Pernah berdiri sekolah SMP ‘swadaya’, yang hanya beberapa saat melakukan proses melajar mengajar di rumah perorangan, tetapi kemudian tidak lagi berjalan mengingat kurangnya berbagai fasilitas pendukung.

Sebenarnya, sebagian masyarakat telah mulai mengikuti pendidikan setingkat sekolah dasar (sekolah rakyat), namun untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi (SMP/sederajat), membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit, selain itu jarak sekolah yang jauh. Di wilayah Kabupaten Wonogiri baru ada beberapa sekolah SMP/ sederajat. Misalnya SMP 1 Wonogiri, SMP 2 Wonogiri, ST Jatisrono, serta beberapa sekolah di Wonogiri Selatan.
Seiring dengan perkembangan zaman, dimana masyarakat Purwantoro dan sekitarnya sangat membutuhkan fasilitas untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi (SMP), maka pada tahun 1962, Pemerintah Daerah Wonogiri merintis berdirinya SMP.

Sejarah Berdirinya Sekolah

Sejarah berdirinya SMP Purwantoro melalui tiga (3) tahap penting yang menandai perubahan-perubahannya :

Tahap Perintisan (SMP Wedha Purwantoro)
SMP Negeri 1 Purwantoro dirintis berawal dengan dibentukknya Panitia Pendiri SMP Purwantoro pada Tahun 1962. Awalnya, pemerintah daerah mengundang beberapa guru Sekolah Rakyat Negeri yang ada di Kecamatan Purwantoro untuk diajak bersama-sama menggagas berdirinya SMP. Dengan mengingat berbagai pertimbangan, pemerintah memandang perlu dan berupaya memfasilitasi segera berdirinya sekolah tersebut.

Musyawarah menghasilkan kesepakatan, yaitu mendirikan sekolah SMP swasta, sekolah ini kemudian diberi nama SMP “Wedha” PURWANTORO.

Pada awal berdiri, sarana pendukung kegiatan belajar mengajar sangat minim, dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang. Sekolah ini dipimpin oleh Bapak Ambiin Rachman, yang ditunjuk sebagai kepala sekolah. Beliau adalah guru Sekolah Rakyat Negeri Sukomangu. Kegiatan belajar mengajar dibantu oleh guru-guru SR Negeri di Purwantoro dan lulusan SGA yang belum mendapatkan pengangkatan.

Tempat pelaksanaan kegiatan belajar mengajar berlangsung di rumah perorangan (rumah Bapak Kartokiran), yang dipinjam/ disewa oleh Sekolah Rakyat Negeri 2 Purwantoro . Berlokasi di sebelah Kantor Kecamatan Purwantoro.

Pada tahun ke-3, yaitu Tahun Pelajaran 1964/ 1965 , siswa semakin banyak. Siswa yang melanjutkan ke SMP Wedha, tidak hanya dari Kecamatan Purwantoro, tetapi juga dari Kecamatan Bulukerto dan Kecamatan Kismantoro.

Perkembangan ini menyebabkan tidak semua siswa dapat tertampung. Untuk memperlancar kegiatan belajar mengajar, maka pihak sekolah mengambil inisiatif untuk pindah ke Gedung Sekolah Rakyat Purwantoro I, yang berlokasi di Bangsri Purwantoro.

Pada waktu meletus pemberontakan G 30 S/ PKI pada Tahun 1965 banyak guru yang dinyatakan terlibat organisasi PKI. Mereka kemudian dicopot. Akibatnya tenaga guru yang tersisa hanya dua (2) orang, yaitu Bapak Sutarwo (Guru SR Negeri Miricinde) dan Bapak Toekino (alm.) –guru SR Negeri Kepyar–. Praktis KBM tidak berjalan.
Untuk menyelamatkan siswa agar kegiatan belajar dapat terus berlangsung, Pemerintah Kecamatan Purwantoro memanggil dua guru yang ada untuk mengadakan musyawarah (di kediaman Bapak Soetarto –alm.–).

Hasil musyawarah, menyepakati dikumpulkannya elemen-elemen masyarakat yang dianggap memiliki kemampuan mengajar dan dinyatakan ‘bersih’, untuk mengajar di SMP Wedha Purwantoro. Tenaga pengajar berasal dari beberapa guru SR, pegawai kecamatan, pegawai Pertani (Padi Sentra), dan pegawai Kopem (Komando Pemberantasan Penyakit Menular).

Era baru tersebut menandai semakin pentingnya penyelenggaraan pendidikan di wilayah Purwantoro dan sekitarnya. Sebagai wujud kesungguhan, pemerintah setempat mengupayakan proses penegrian SMP Wedha Purwantoro. Langkah yang diambil dengan mengubah nama SMP Wedha Purwantoro menjadi SMP “Persiapan Negeri” Purwantoro.

Tahap Persiapan (SMP Persiapan Negeri Purwantoro)
Mengawali kelangsungan kegiatan belajar mengajar pada masa transisi ini, Bapak Sutarwo ditunjuk sebagai kepala sekolah. Bersamaan dengan itu, direncanakan pula pembangunan gedung sekolah.

Pembangunan Gedung SMP Purwantoro, mendapat dukungan penuh dari warga masyarakat se-kawedanan Purwantoro. Dibawah koordinator kepala-kepala desa di Kawedanan Purwantoro, masyarakat mengumpulkan bahan-bahan bangunan, seperti Batu kali, Pasir, batu gamping dan Uang. Bagi masyarakat yang tidak dapat memberikan bantuan bahan-bahan bangunan dapat mengganti dengan bahan makanan atau tenaga.

Pengerjaan bangunan dimulai pada tahun 1966 yang ditangani oleh DPU dengan pimpinan tenaga teknis Bapak Sukarno (Pensiun). Tahun 1967, 5 lokal gedung yang membujur dari Barat ke Timur di sebelah selatan sudah dapat digunakan, meskipun belum sempurna belum ada jendela, pintu serta belum dihaluskan. Tahun berikutnya, pembangunan ditambah 3 lokal yang membujur dari Selatan ke Utara, menyambung dengan bangunan sebelumnya. Sehingga membentuk letter “L”.

Mengingat semakin banyak murid dan kebutuhan ruang, pada tahun berikutnya didirikan rumah (kampung) yang berdinding bambu (gedhek), membujur dari Selatan ke Utara di sebelah Barat. Rumah ini disekat menjadi 4 ruangan. Satu ruang untuk Tata Usaha dan tiga (3) ruang untuk kegiatan belajar.

Kebutuhan guru pun semakin mendesak atas permintaan Panitia Pendiri Sekolah, melalui Dep. P dan K c.q. Kabid. Dikmenum Dep. P dan K Propinsi Jawa Tengah kemudian ditugaskan 2 guru negeri yaitu Bapak Waridi dan Ibu Ismien dari SMP Negeri 2 Wonogiri. Disusul penempatan pejabat kepala sekolah beberapa waktu kemudian, yaitu Bapak Hadi Sunarso, guru SMP Negeri Surakarta (1967/ 1968).

Tidak lama menjabat, kepala sekolah mendapat tugas baru di SMP di daerah Boyolali, untuk sementara kepala sekolah diampu oleh Bapak Soetarwo. Pada Tahun 1967/1968 Bapak Buanggono Yudho (guru SMP Negeri 1 Wonogiri) memimpin SMP Persiapan Purwantoro sampai dengan Tahun 1969/1970 (pindah tugas di SMP Negeri Cokrotulung, Klaten). Sambil menunggu pengganti kepala sekolah baru, untuk sementara Bapak Soetarwo kembali menggantikan sebagai kepala sekolah.
Pengganti Bapak Buanggono Yudho, kemudian adalah Ibu Siti Aminah, sedang Bapak Soetarwo ditunjuk sebagi wakil kepala sekolah sampai dengan Tahun 1972/ 1973. Pada tahun ini status sekolah masih sebagai sekolah persiapan negeri.


Pada masa Kepala Sekolah Ibu Siti Aminah, sejarah baru SMP Purwantoro terjadi. Status sekolah yang semula sebagai Sekolah Persiapan Purwantoro, kini berubah menjadi Sekolah Negeri Purwantoro. Perubahan status ini tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 047/ 0/ 1974 tertanggal 20 Pebruari 1974.

Dengan keluarnya SK Menteri P dan K tentang perubahan status SMP Persiapan Purwantoro menjadi Sekolah Negeri, maka tanggal 20 Pebruari dinyatakan sebagai Hari Jadi SMP Negeri 1 Purwantoro.
Setelah penegrian, SMP Negeri Purwantoro mengalami kemajuan pesat. Perubahan dan pembenahan, baik fisik maupun non fisik sekolah berlangsung dinamis. Sampai sekarang SMP Negeri 1 Purwantoro merupakan sekolah yang mendapatkan kepercayaan luas di masyarakat. Terutama masyarakat Purwantoro dan sekitarnya (Slogohimo, Bulukerto, Puhpelem, dan Kismantoro).